Konser Panic! At The Disco: Not Bad But No Panic & No Disco!

Panic At The Disco
Panic At The Disco

Adri Subono, tersenyum simpul diluar panggung. Dengan kaos kebangsaannya, hitam, laki-laki yang mondar-mandir di venue dan lapangan itu, boleh bernapas lega. Konser Panic! At The Disco (PaTD) yang digelarnya Minggu [17/8/2008] ternyata dipenuhi penonton.

Malah, sejak pukul 3 sore, antrean ABG bercelana pendek sudah menyemut diluar stadion Tennis Indoor Senayan, tempat konser digelar.

“Yah sekitar 4500-an,” jelas Adri menyebut angka penonton. Angka yang bagus tentu saja, selepas perhelatan Jakarta! Jam 08 yang kurang berhasil dari sisi jumlah penonton.

Ah, lupakan hal itu. Mari kita bicara soal PaTD ini.

Band yang awet berawak Brendon Urie [vokal/gitar/keyboards], Ryan Ross [gitar, keyboards, vokal], Jon Walker [bass, gitar, vokal] dan Spencer Smith [drums/percussion] ini memang jadi magnet di kalangan ABG, tak cuma di Indonesia.

Konon, banyak promotor yang berebut mendatangkan band yang awalnya disebut-sebut memainkan emo, tapi kemudian di album keduanya ‘melenceng’ ke arah rock n’ roll.

Tapi pernah dengar jawaban mereka ketika disebut sebagai band emo ? “Emo is bullshit. We want to be the new Radiohead.” Jelas ya, mereka main genre apa?

Tampang cute, musikalitas apik, dengan karakter lagu yang tidak terlalu sulit ditirukan, menjadi PaTD menjadi ‘most wanted band’ yang ditunggu konsernya, termasuk di Indonesia.

Tak pelak, tiket 350 ribu untuk festival dan 300 ribu untuk tribun, menjadi begitu “murah” atas nama ngefans.

Mulai sekitar 20.50 WIB, band yang terbentuk tahun 2004 di Las Vegas, Nevada, Amerika Serikat ini, langsung menyorongkan lagu ‘We’re So Starving’ [dari album kedua, Pretty Odd/2008].

Lagu yang kental dengan ornamen rock dengan modulasi kibord ala Hammond ini, dilahap tuntas oleh penonton yang mengikuti koor panjangnya.

Kelar, lagu ‘Nine In The Afternoon’ menyusul. Masuk dengan aksentuasi rock modern yang masih kental.

“Kami Panic at the Disco dari Amerika, senang bertemu denganmu. Dan Indonesia, selamat hari jadi,” tutur Brendon Urie sang vokalis sambil melirik drumernya yang membawa bendera merah putih kecil.

Tak basa-basi, ‘Better if U Do’ yang disambung cepat dengan ‘Camisado’ langsung merangsek. Nah, aroma rock muali bergeser ke arah folk.

Brendon Urie mulai bersenandung alam Bob Dylan, tapi dengan karakter suara yang lebih rock. Ini kentara saat membeawakan trakc “Go On, Applaus’ yang kemudian memberi kejutan dengan akustik di lagu ‘Behind The Sea’ yang lebih mirip Garfunkel. Apalagi Brendon menenteng gitar akustik dan Spencer, drumernya maju ke depan mengambil alih posisi vokal.

Selesai ? Ho..ho, tentu saja tidak. Menyembur kemudian adalah lagu-lagu ala folk seperti ‘Lying, Esteban, Thing have Changed’ sampai model semi-jazzy [meski hanya pada beberapa part] pada lagu ‘Top Hats, Famous Friend’ sampai denting country pada ‘Sins’ dan Surprise’ sembari mengajak penonton yang jejeritan sepanjang konser untuk menyalakan lampu handphonenya.

Nyelonong ke backdrop, sekedar mendengar teriakan basi ‘we want more’ PaTD kembali ke atas panggun yang hanya dihiasi kover ‘Prett Odd’ sebagai backdrop panggung, mereka langsung menggedor dengan empat encore, yang entah kenapa kental sekali dengan rock n’ roll ama the Beatles.

Coba simak ‘Time to Dance, Sing It For Them’ yang tetap membuat koor panjang, sebelum diakhir dua lagu yang [juga] rock n; roll macam ‘Mad as Rabbits’ dan pungkasan lagu ‘Na Na Na Na’ [hmm, partnya mirip The Beatles loh].

Dalam Konsernya, PaTD seolah ingin membuktikan, mereka bisa bermain di berbagai ranah musikal, sama apiknya dengan yang hanya ‘ngendon’ di satu genre.

Alhasil, meski album pertama ‘A Fever You Can’t Sweat Out’ [2005] nyaris berbeda total dengan album keduanya, “Pretty.Odd” [2008], tapi sinerginya masih bisa dinikmati. Nice Concert…[knm/foto: munady]

berita juga dapat dibaca di:http://www.rileks.com/music/?act=detail&artid=31102006123394

Diterbitkan di: on Agustus 19, 2008 at 12:50 pm Tinggalkan sebuah Komentar

URI untuk melacak balik entri ini adalah: http://13music.wordpress.com/2008/08/19/konser-panic-at-the-disco-not-bad-but-no-panic-no-disco/trackback/

RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini.

Leave a Comment