Konser THE USED: Penonton Apik, Performance & Sound Menukik!

The USED
The USED

BAGI kuping yang ngerti teknis vokal, alat musik dan sound, konser The Used di Tennis Indoor Jakarta, Rabu, 13/8-2008, terdengar sangat `menganggu telinga` banget.

Selain sound gitarnya kenceng [banget], menutup akselerasi alat musik yang lain, setingan drumnya rada pecah dan vokalisnya ‘parah’ karena nyanyinya sering ‘out of pitch’ di nyaris semua lagu. Tapi buat fans fanatiknya, siapa peduli ?

Sekitar 3000-an penonton memadati Senayan. Dari sore, bersama calo-calo yang berkeliaran, ribuan penonton yang nyaris semuanya ABG itu, sudah ningkrong di seputaran Tennis Indoor. Yup…., setelah harga tiket diturunkan, animo penggemar, Bert McCracken [vokal], QUinn Allman [gitar], Jeph Howard [bass] dan Dan Whitesides [drum], band emo asal Utah Amerika Serikat ini, tampaknya melonjak.

Lupakan lonjakan penonton itu. Konser yang dimulai sekitar pukul 20.15 WIB itu, dimulai dengan ‘kesalahan’ dari vokalis Bert yang fals berat. Musiknya terlalu keras, suaranyanya ketimpa.

Sayangnya, kejadian itu –suara fals– hampir terjadi di sepanjang konser. Kesalahan fatal untuk band sekelas THE USED. Meski ada embel-embel –konon– vokalisnya baru saja dipoerasi pita suaranya. Sorry, no excuse-lah.

Menariknya, band pengusung emo boleh gembira, lantaran nyaris semua penonton iktu menyanyikan lagu-lagu yang diteriakan dengan vokal yang ‘ngotot’ banget. Lagu-lagu yang diambil dari beberapa kantong albumnya digebar habis, seperti ‘Sick Heart, Sun Comes Up, Paralyzed, Liar Liar, dan Pretty Handsome Awkard’

Aksi panggungnya biasa saja, tidak terlalu istimewa. Ketambahan cara bertutur yang mengumbar kata-kata F**K cukup ‘mengganggu’ meski tak terlalu menggelisahkan. Kalau boleh disebut, konser The Used meski sukses dari jumlah penonton, tapi ‘gagal’ dalam performance yang apik.

The Used sendiri, di Indonesia cukup punya massa yang besar. pasalnya, band asal Orem, Utah, Amerika Serikat ini sudah merilis empat album yang terhitung cukup sukses secara penjualan di seluruh dunia.

SEBAGAI PENGUSUNG alternatif, band bernama THE USED ini terhitung sedang naik daun. Album terbarunya ‘Lies For The Liars’ cukup menarik minat penikmat musik alternatif. Band ini sendiri sudah berdiri sejak awal 90-an. Cukup lama memang untuk meraih apa yang mereka harapkan.

Album ini masuk album ke-3. Dengan awak Bert McCracken [vokal], QUinn Allman [gitar], Jeph Howard [bass] dan Dan Whitesides [drum], The Used tidak terjebak pada aransemen rock yang sekedar kencang dan gahar saja, tapi bisa menjelajah sound techno yang moderen. Track asik bisa kamu simak di single ‘Pretty Handsome Awkard’

Karir mereka sebenarnya sudah dimulai dari awal 90-an tapi belum mencapai kata sepakat dengan label. Baru tahun 2001, mereka tantatangan kontrak dengan Reprise Record sampai akhirnya tahun 2002 merilis album self titled ‘The Used’.

Tahun 2004, setelah album pertama mendapat respon yang dashyat, band ini kembali merilis album ‘In Love and Death’ [2004]. Lagu bisa dibilang album yang paling emosional secara penggarapan dan cara menyanyikannya, pasalnya kekasih Bert McCracken yang sedang hamil, ditemukan tewas karena over dosis. Pengaruh kematian ceweknya, kentara sekali dalam lirik dan teknik vokal yang cenderung emosional.

Tak berhenti, The Used kembali merilis ‘Lies for the Liars’ [2007] yang sayangnya masuk ke Indonesia baru awal 2008. Album ini making mengukuhkan eksistensi dan popularitas band yang “menolak” disebut EmoRock. Mereka juga merilis album EP beritel ‘Shallow Believer’ yang dilepas di awal 2008. [Djm/ly/foto:ist]

berita ini juga dapat dibaca di:http://www.rileks.com/music/?act=detail&artid=31102006123285

Diterbitkan di:  on Agustus 19, 2008 at 1:00 pm Tinggalkan sebuah Komentar

Oasis Gelar Tour Keliling

Oasis
Oasis

Oasis mengumumkan jadwal tour keliling Inggris, mulai tanggal 15 Agustus 2008. Seperti telah diberitakan sebelumnya Oasis akan meluncurkan single terbaru mereka ‘The Shock of The Lightning’ yang akan dibawakan dalam rencana tour konser mereka.

Album ke tujuh mereka ‘Dig Out Your Soul’ akan rilis dipasaran tanggal 6 Oktober mendatang, sedangkan untuk single ‘The Shock Of The Lightning’ sendiri akan dirilis tanggal 29 September secara global diradio-radio Inggris jam 8 pagi waktu setempat, dan itu juga bisa dinikmati oleh para fans Oasis lewat situs NME.COM.

Untuk informasi saja, pada track ‘Falling Down’ yang berkolaborasi dengan Chemical Brother merupakan lagu yang pertama digarap oleh Noel Gallagher dan kawan-kawan dalam versi remix lho.. (NME/Ezza)

Diterbitkan di:  on at 12:58 pm Tinggalkan sebuah Komentar

Iwan Fals, Gelar Konser Digital Pertama

Iwan Fals
Iwan Fals

Iwan Fals menjadi artis pertama yang menggelar konser musik yang disiarkan secara langsung oleh Telkomsel menggunakan teknologi 3 G.

“Sudah tradisi, setiap 17 Agustus kami bersama teman-teman OI (Orang Indonesia) mengadakan acara sekaligus merayakan ulang tahun OI,” kata Iwan kepada wartawan beberapa saat sebelum konser digelar.

Konser yang digelar di halaman belakang rumah musisi/penyanyi balada yang terkenal dengan lagu Bongkar tersebut di Desa Leuwinanggung, Depok, Jawa Barat itu disiarkan secara langsung menggunakan teknologi Ponsel 3G.

HB Naveen dari PT Falcon Interactive selaku promotor, menyatakan bahwa pihaknya memaknai kata Merdeka sebagai kemajuan ke arah yang baik.

“Bagi kami Konser Merdeka Live 3G Iwan Fals ini merupakan pernikahan antara tradisi dan modernisasi,” katanya.

Konser Merdeka 3G Live 3G Iwan Fals didukung personil Kantata Takwa, kecuali Sawung Jabo yang berhalangan karena isterinya sedang sakit.

Sejak pukul 19.00 WIB, jalanan masuk ke rumah Iwan Fals sudah dipenuhi penggemar dan masyarakat sekitar. Lahan tanah kosong di sisi kiri dan kanan jalan disesaki kendaraan mobil dan motor yang parkir.

Halaman belakang rumah Iwan yang dijadikan tempat konser penuh diisi penonton, termasuk di balkon.

Sebagian penonton yang tidak bisa masuk terpaksa menonton di jalan depan rumah melalui layar besar yang disediakan penyelenggara.

Hanya halaman rumah yang tampaknya disediakan sebagai tempat jajanan saja yang kosong. Tempat ini memang dijaga oleh panitia dibantu aparat keamanan.

Meski demikian, konser berlangsung aman, dan Iwan Fals pun berhasil membawakan seluruh lagu yang dipersiapkan, mulai dari Di Ujung Abad, Siang Seberang Istana, Penari Jalanan, Perjalanan Waktu, hingga Bangunlah Putra Putri Pertiwi, Merdeka dan Hari Merdeka.

Konser Merdeka Live 3G ini pun mengakhiri untuk sementara kegiatan bulanan pertunjukan musik Iwan Fals di rumahnya.

“Ini bulan ke-9. Abis ini istirahat dulu karena sudah masuk Puasa dan mau Lebaran,” begitu dikatakan salah seorang anggota panitia. (ant/ly/foto:KPL)

tulisan ini juga dapat dibaca di:http://www.rileks.com/music/?act=detail&artid=31102006123391

Diterbitkan di:  on at 12:57 pm Tinggalkan sebuah Komentar

Jelang Ramadhan, GIGI Siapkan Jalan Kebenaran

GIGI
GIGI

Menyambut datangnya bulan suci Ramadhan, berita datang dari salah satu grup band handal di Indonesia GIGI, mereka baru saja merampungkan video klip pertama mereka untuk bulan puasa yang sebentar lagi akan datang, Pada hari rabu (13/8) kemarin bertempat digedung Kerta Niaga, Kota, Jakarta Utara.

Adalah Angga Dimas Sasongko yang menyutradari video klip ini, dengan full personil band GIGI, Armand (Vokalis), Dewa Budjana (gitar), Thomas (bas), dan Hendy (drum) melangkah pasti untuk menyambut ramadhan dengan mengeluarkan album Jalan Kebenaran. Yang single pertamanya diambil dari nama albumnya sendiri yaitu Jalan Kebenaran.

“Gue lagi ngoleksi lukisan pelukis Indonesia yang digambar digitar gue” ujar Dewa Budjana yang terlihat “berbeda” ketika gitar Parkernya yang khusus penuh dengan “coretan” dibodinya. Selain menyelesaikan video klipnya, GIGI juga masih akan promosi album barunya tersebut dengan cara jalan tur bareng sama band yang spesialis ramadhan yaitu Ungu. Cara yang jitu buat promosi ya…(HAI/Ezza/foto:boim)

berita dapat dibaca juga di:http://www.rileks.com/music/?act=detail&artid=31102006123338

Diterbitkan di:  on at 12:55 pm Tinggalkan sebuah Komentar

Baron & Soulmates, Inilah Pop-Rock Yang Benar!

Baron & Soulmates
Baron & Soulmates

Rasanya tidak banyak yang bisa dikatakan jika berbicara mengenai Baron N’ Soulmates. Meski tampil dengan wajah dan kemasan baru. Namun sesungguhnya, apa yang sajikan bukan sesuatu yang baru, melainkan hanya sebuah kesegaran. Kesegaran baru menikmati musik pop rock berkat ciri dan cara yang mereka suguhkan di album pertamanya ini.

Dikenal sebagai seorang musisi yang perfeksionis dan ingin menggarap segala sesuatunya dengan sempurna, Baron, paling tidak secara teknis untuk urusan musik nggak ada masalah.

Beranggotakan Baron, Baron N’ Soulmates, terdiri atas mantan personil “GIGI”, Ary, dan Jimmy, Baron’ Soulmates berdiri tidak kurang dari umur yang masih sejagung, yaitu baru sekitar satu tahun.

Baron sendiri, yang selama ini lebih banyak beredar di balik layar sebagai produser beberapa grup band, kini malah come back sebagai `anak band` di grup ini.

“Gue merasa memang sudah saatnya harus balik lagi untuk nge-band dan mungkin ini memang sudah jalan gue,” tutur Baron, yang menciptakan seluruh lirik lagu di album ini.

Yah, memang di tangan mereka, lirik bertema cinta yang memang sudah dianggap terlalu biasa diperdengarkan sebagai lirik lagu dalam musik pop, terasa jadi tidak biasa.

Lebih tepatnya, akan terdengar lebih spesial. Ya, karena Baron Soulmates berusaha menyampaikan kata-kata cinta dengan idiom-idiom bahasa yang lebih dewasa. Romantis tapi tidak kolot. Bukan tidak mau lugas, tapi inginnya lebih `nakal`.

Soal rasa dan kepekaan dalam bermusik, juga jangan diadu. Coba lihat pada lirik lagu ‘Sumpah Mati’ yang mereka jadikan single pertama album perdana mereka ini !

Atau pada lirik Arti Cinta’, ‘Cinta Sejati’, ‘Ada Rasa’, serta ‘Pilih Dia atau Aku’. Disini, Baron N`Soulmates, bertutur tentang indahnya cinta, sakitnya cinta, dan susahnya memahami cinta.

Selain lirik, kesegaran dari Baron Soulmates juga datang dari kekuatan Ary sebagai vokalis mereka. Tiap kali mulai bernyanyi, suaranya terdengar jernih dan melengking. Rasanya, inilah karakter suara khas dari seorang Ary.

Di lagu Sumpah Mati dan Jatuh Cinta, misalnya. Begitu bait pertama lagu iini mengalun, karakter yang keluar adalah timbre vokal yang jernih dan mellow. Sementara di saat menjelang dan masuk ke reffrain lagu, Ary mengeluarkan tarikan vokal yang serak dan melengking tinggi.

Dua gabungan karakter suara itu sepertinya memang khas `milik` Ary. Tidak lain, penjiwaannya menyanyikan lirik-lirik cinta dalam nuansa slow rock lagu itulah penyebabnya.

Alhasil, bukan cuma di lagu Sumpah Mati, melainkan juga pada lagu Jatuh Cinta, Arti Cinta, Cinta Sejati, Ada Rasa, serta Pilih Dia atau Aku, karakter suara khas ini dapat dibuktikan oleh Ary dengan baik.

Selain lirik dan vokal, kesegaran lain Baron’s Soulmate juga datang dari karakter musik dan tipikal sound mereka sendiri. Musik Baron’s juga sangat khas, dan itu berkat harmonisasi permainan yang keluar dari gitar, bas, piano, string, piano, atau hammond, baik dari permainan masing-masing personil maupun additional players yang ikut mendukung `hidupnya` musik mereka.

Memang, di saat banyak gitaris band sekarang seperti `takut` untuk berekspresi secara luas di album-album mereka, Baron’s Soulmate justeru sebaliknya, terkesan cukup kuat untuk menonjolkan hal tersebut.

Apalagi setelah diimbuhi oleh iringan hammond, eksistensi permainan gitar di sini terasa lebih harmoni dan menjadikan band ini cukup pantas disebut ber-genre pop rock.

“Kami memberi kesegaran pada musik, pada waktu saya bergabung di Gigi tahun 1994, musik-musik seperti itu balik lagi ke zaman sekarang denga ciri khas vokal karena kita gabungan Brian Adam dan Sting,” ujar Baron yang menolak disebut-sebut sebagai musisi lawas.

Disandingkan dengan band-band baru yang lebih muda, fresh dan “jualan” Baron menampik kalau band-nya ini bakal kalah saingan.

“Saya tidak takut karena saya sudah duluan. Pada saat ditawari label lama, saya langsung dapat liriknya. Ini semua ide dari kami. Buat kami penjualan album di angka delapan tidak pernah putus dan mau tidak mau aku harus percaya dengan ini,” kata Baron.

Dalam istilah Baron, “Kita ingin mengisi kekosongan dari dunia musik Indonesia, main pop-rock yang benar-benar pop-rock dalam artian sebenarnya,” ujarnya tanpa merinci apa makna sebenarnya itu.

Nah, apakah kesegaran baru dari Baron Soulmates ini betul-betul akan menyegarkan musik pop rock Indonesia? Inikah konsep rock modern ala mereka? Kita tunggu saja ! (*/ly)

Diterbitkan di:  on at 12:52 pm Tinggalkan sebuah Komentar

Konser Panic! At The Disco: Not Bad But No Panic & No Disco!

Panic At The Disco
Panic At The Disco

Adri Subono, tersenyum simpul diluar panggung. Dengan kaos kebangsaannya, hitam, laki-laki yang mondar-mandir di venue dan lapangan itu, boleh bernapas lega. Konser Panic! At The Disco (PaTD) yang digelarnya Minggu [17/8/2008] ternyata dipenuhi penonton.

Malah, sejak pukul 3 sore, antrean ABG bercelana pendek sudah menyemut diluar stadion Tennis Indoor Senayan, tempat konser digelar.

“Yah sekitar 4500-an,” jelas Adri menyebut angka penonton. Angka yang bagus tentu saja, selepas perhelatan Jakarta! Jam 08 yang kurang berhasil dari sisi jumlah penonton.

Ah, lupakan hal itu. Mari kita bicara soal PaTD ini.

Band yang awet berawak Brendon Urie [vokal/gitar/keyboards], Ryan Ross [gitar, keyboards, vokal], Jon Walker [bass, gitar, vokal] dan Spencer Smith [drums/percussion] ini memang jadi magnet di kalangan ABG, tak cuma di Indonesia.

Konon, banyak promotor yang berebut mendatangkan band yang awalnya disebut-sebut memainkan emo, tapi kemudian di album keduanya ‘melenceng’ ke arah rock n’ roll.

Tapi pernah dengar jawaban mereka ketika disebut sebagai band emo ? “Emo is bullshit. We want to be the new Radiohead.” Jelas ya, mereka main genre apa?

Tampang cute, musikalitas apik, dengan karakter lagu yang tidak terlalu sulit ditirukan, menjadi PaTD menjadi ‘most wanted band’ yang ditunggu konsernya, termasuk di Indonesia.

Tak pelak, tiket 350 ribu untuk festival dan 300 ribu untuk tribun, menjadi begitu “murah” atas nama ngefans.

Mulai sekitar 20.50 WIB, band yang terbentuk tahun 2004 di Las Vegas, Nevada, Amerika Serikat ini, langsung menyorongkan lagu ‘We’re So Starving’ [dari album kedua, Pretty Odd/2008].

Lagu yang kental dengan ornamen rock dengan modulasi kibord ala Hammond ini, dilahap tuntas oleh penonton yang mengikuti koor panjangnya.

Kelar, lagu ‘Nine In The Afternoon’ menyusul. Masuk dengan aksentuasi rock modern yang masih kental.

“Kami Panic at the Disco dari Amerika, senang bertemu denganmu. Dan Indonesia, selamat hari jadi,” tutur Brendon Urie sang vokalis sambil melirik drumernya yang membawa bendera merah putih kecil.

Tak basa-basi, ‘Better if U Do’ yang disambung cepat dengan ‘Camisado’ langsung merangsek. Nah, aroma rock muali bergeser ke arah folk.

Brendon Urie mulai bersenandung alam Bob Dylan, tapi dengan karakter suara yang lebih rock. Ini kentara saat membeawakan trakc “Go On, Applaus’ yang kemudian memberi kejutan dengan akustik di lagu ‘Behind The Sea’ yang lebih mirip Garfunkel. Apalagi Brendon menenteng gitar akustik dan Spencer, drumernya maju ke depan mengambil alih posisi vokal.

Selesai ? Ho..ho, tentu saja tidak. Menyembur kemudian adalah lagu-lagu ala folk seperti ‘Lying, Esteban, Thing have Changed’ sampai model semi-jazzy [meski hanya pada beberapa part] pada lagu ‘Top Hats, Famous Friend’ sampai denting country pada ‘Sins’ dan Surprise’ sembari mengajak penonton yang jejeritan sepanjang konser untuk menyalakan lampu handphonenya.

Nyelonong ke backdrop, sekedar mendengar teriakan basi ‘we want more’ PaTD kembali ke atas panggun yang hanya dihiasi kover ‘Prett Odd’ sebagai backdrop panggung, mereka langsung menggedor dengan empat encore, yang entah kenapa kental sekali dengan rock n’ roll ama the Beatles.

Coba simak ‘Time to Dance, Sing It For Them’ yang tetap membuat koor panjang, sebelum diakhir dua lagu yang [juga] rock n; roll macam ‘Mad as Rabbits’ dan pungkasan lagu ‘Na Na Na Na’ [hmm, partnya mirip The Beatles loh].

Dalam Konsernya, PaTD seolah ingin membuktikan, mereka bisa bermain di berbagai ranah musikal, sama apiknya dengan yang hanya ‘ngendon’ di satu genre.

Alhasil, meski album pertama ‘A Fever You Can’t Sweat Out’ [2005] nyaris berbeda total dengan album keduanya, “Pretty.Odd” [2008], tapi sinerginya masih bisa dinikmati. Nice Concert…[knm/foto: munady]

berita juga dapat dibaca di:http://www.rileks.com/music/?act=detail&artid=31102006123394

Diterbitkan di:  on at 12:50 pm Tinggalkan sebuah Komentar