ARMADA BAND = KERTAS BAND

Photobucket

Apakah benar Kertas Band yang sempat naik daun berubah nama? sebenarnya info ini saya dapat dari beberapa temen-temen blog. Sebelumnya aku ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas minatnya terhadap tulisan tentang Band Kertas di blog saya, tapi jadi biar lebih up date saya buatin thread baru. tapi tulisan ini bukan asli tulisan saya tapi dari temen-temen yang memberikan comment2 buat band kertas seperti mas Aribowo Sangkoyo seperti yang kutipannya mengenai perubahan nama band kertas :

Band Kertas adalah salah satu band yang bersinar dari Palembang, lagunya yang berjudul Kekasih yang tak dianggap menjadi hits hampir di semua pelosok Indonesia. Namun apa yang terjadi, band ini sama sekali tidak pernah merasakan hasilnya. Permasalahan yang bisa dibilang sangat klise ini, memang sering terjadi di Indonesia, Sebuah Label baru yang tidak tahu cara bekerja dengan baik memberikan janji-janji belaka terhadap musisi-musisi Indonesia yang mungkin untuk menembus Major label agak susah dikarenakan koneksi yang kurang kuat atau letak geografis yang jauh dari ibukota. Akibatnya lagu yang bagus terbuang percuma tanpa hasil. Dari Pihak personil band ini sudah mencoba untuk berunding dengan pihak label dan manajemen yang kebetulan satu atap, mereka meminta penjelasan atas semua tindakan yang telah dan akan dilakukan, seperti meminta laporan royalti dan pembayaran, fee dari show2 yang telah dilakukan namun tidak jelas kemana mengalir uangnya, rencana promosi yang tidak jelas, sampai kepada penggunaan lagu lagu dari Grup Band KERTAS tanpa seijin pencipta. Hal ini masih terjadi sampai sekarang, baru2 ini ada penayangan sebuah sinetron dengan soundtrack dari salah satu lagu KERTAS, dan penciptanya sama sekali tidak mengetahui apa2. Sedikit mendengar selentingan sampai labelnya memalsukan tanda tangan penciptanya.

Akhirnya band KERTAS mencoba untuk menyelesaikan perjanjian mereka dengan pihak label secara baik2, alhasil pihak label meminta ganti rugi sebesar 350 juta rupiah tanpa ada dasar yang jelas. Setelah melalui perundingan yang alot, pihak label akhirnya menggunakan jalur hukum dan mengadakan somasi terhadap Band KERTAS. Para personil band ini merasa ketakutan sekali jika harus berhadapan dengan hukum. Yang sangat membuat rumit masalahnya adalah Band KERTAS ini bukan dari kalangan orang yang berada, lagi2 orang kecil yang selalu ditindas dan akhirnya mendapatkan bantuan dari salah satu teman mereka di Palembang.

Pihak label semakin menggila dan meningkatkan tuntutan menjadi 1,3 milyar dengan anggapan mereka sudah dan akan merugi jika perjanjian batal. Sampai sekarang pun perkara ini masih berjalan di pengadilan negeri Jakarta Selatan, dengan pihak pembela Band KERTAS Pengacara Adnan Assegaf yang rela tidak dibayar sepeser pun karena merasa simpatik. Setelah dipertimbangkan cukup matang, dengan satu alasan yang kuat yaitu: jika harus sampai selesai dulu perkaranya dan baru merilis album lagi, mereka tidakdapat hidup. Akhirnya mereka memutuskan untuk mengganti nama menjadi ARMADA dan terpaksa merubah formasi bandnya dikarenakan salah satu personilnya tidak kuat lagi menahan beban pikiran masalah ini. Terdengar sangat tragis memang, tapi ini kenyataan yang terjadi, mereka harus memulai dari awal lagi, dan hanya mencoba bertahan saja di Jakarta. Dibantu oleh Universal Music Indonesia untuk merilis album perdana dari Grup ARMADA ini.

Jika teman2 bisa merasakan juga, mungkin ini hanya salah satu dari sekian banyak musisi indonesia yang tertimpa masalah seperti ini. Atas kejadian ini saya memohon untuk perusahaan rekaman liar yang sekiranya belum begitu mengerti industri ini, Jangan membuat sengsara hidup orang lain! Dan untuk para musisi baru hendaknya selalu mengikuti perjalanan bisnis musik ini agar bisa meng-antisipasi hal-hal yang tidak diinginkan.

Andreas Wullur

Massive Music Entertainment

Maha Suara Boutique Management

+62 812 9769864

+62 817 98077777

+62 817 9887777

berita yang sama juga dapat di baca di sini :http://www.rileks.com/music/?act=detail&artid=31102006117642

untuk Web Armada Band —> klik ArmadaBAND

untuk friendster nya —> Friendster Armada Band

photo-photo band kertas opsss.. Armada Band :

Photobucket

Photobucket

Photobucket

Photobucket

Photobucket

Photobucket

CAYOOO.. BAND KERTAS

http://firman-rasyid.com/?p=34

ARMADA are :

ARMADA RIZAL – VOC

ARMADA RADHA – GUITAR

ARMADA ENDRA’ – BASS

ARMADA ANDITH – DRUM

=======================================
SINGLE HITS RADIO : ‘GAGAL BERCINTA’

SINGLE HITS 2 : BUKAN DEWA

ALBUM : ‘BALAS DENDAM’
=======================================

KODE RBT ARMADA :

BUKAN DEWA
xl : 10301807
Indosat : 0609132
Telkomsel : 2010560

GAGAL BERCINTA
xl : 10301808
Indosat : 0609133

GENTAYANGAN
xl : 10301809
Indosat : 0609130

HILANG
xl : 10301810
Indosat : 0609131
Telkomsel : 2010563

INIKAH NIKMAT BERCINTA (INB)
xl : 10301811
Indosat : 0609129

JAWAB
xl : 10301812
Indosat : 0609127
Telkomsel : 2010561

KAU PIKIR AKU APA
xl : 10301813
Indosat : 0609128

PILUPHOBIA
xl : 10301814
Indosat : 0609125

RINTANG
xl : 10301815
Indosat : 0609126

TANYA AIR MATA
xl : 10301816
Indosat : 0609124

APA YANG KAU CARI
xl : 10301806
Indosat : 0609135
Telkomsel : 2010562

AMPUNI AKU
xl : 10301805
Indosat : 0609134
Telkomsel : 2010564

Diterbitkan di: on Agustus 17, 2008 at 1:31 pm Komentar (71)

TAHTA Band, Pancingan di Album Soundtrack Film

-RRI-Online,
SEBENARNYA, menjadi pengisi soundtrack sejatinya adalah incaran musisi. Selain bisa mengangkat filmnya, juga tentu saja mengangkat nama si musisi tersebut. Dan betapa beruntungnya band bernama TAHTA itu. Kenapa?

Band yang beranggotakan 6 pemuda asal Kota Kembang, Bandung Phewe [vokal], Obbie [gitar], Ihsan [bass], Nasa [gitar], Teo [keyboard] dan Mahe [drum] ini mengusung aliran pop kreatif dengan segmentasi pendengar remaja dewasa. Usia personil band yang terbilang muda membawa kesegaran jiwa anak muda masa kini yang kreatif yang dapat ditemui pada lirik lagu-lagu yang terdapat dalam album OST film berjudul D’Girlz Begins arahan sutradara Tengku Firmansyah.
click here to more informations
Sebenarnya, soundtrack film ini tak cuma TAHTA, ada nama-nama lain yang sudah berkibar kencang di blantika m usik Indonesia, seperti ADA Band, radja, DJ Riri, atau Soul.ID. Tapi single Dasar Pengecut milik TAHTA-lah yang dipilih. “Bukan tanpa alasan, karena memang lagunya cukup mengena dengan filmnya,” terang Kiwir, dari EMI Indonesia dalam jumpa pers peluncuran OST tersebut di HardRock Cafe, Kamis [13/4/2006] siang.

Bicara soal TAHTA Band, berarti bicara keberuntungan. Maklumlah, mereka baru mengirim demo Juni 2005 silam, dan langsung direspon oleh label. Sebagai ‘pengantar’, band yang mengusung karakter J-Pop ini kemudian masuk ke line-up OST film yang bakal rilis 27 April 2006 mendatang.

Dalam OST ini, TAHTA menyumbangkan dua lagi. Dasar Pengecut yang berkarakter pop-rock, dengan Bintang yang melow. “Supaya ada pilihan untuk penggemar TAHTA,” celetuk Phewe, vokalis kepada wartawan. Usut punya usut, TAHTA juga sedang dipersiapkan untuk full album.

Diterbitkan di: on at 1:21 pm Tinggalkan sebuah Komentar

THE UPSTAIRS, ‘Kegilaan’ Terkini di Album Baru

-RRI-Online,
Band The Upstairs bersama Warner Music Indonesia mempersembahkan album terbaru bertitel Energy yang dirilis secara nasional pada akhir bulan Maret 2006.

Energy yang proses mixingnya dilakukan oleh maestro musik elektronik, Andy Ayunir di Studio A System merupakan rilisan paling mutakhir dan esensial dari grup dansa resah yang dilahirkan oleh scene art school legendaris IKJ (Institut Kesenian Jakarta). Proses masteringnya sendiri ditangani oleh engineer veteran Khoe Hok Laij dari Studio Musica Mastering.

Walau cukup gerah jika harus dilabel jenis musiknya, namun tak dapat dipungkiri musik ala new wave akhir 70’an yang The Upstairs mainkan empat tahun belakangan ini di sirkuit independen telah sukses memicu deras keringat banyak orang di berbagai lantai dansa.

Mungkin tak pernah ada sebelumnya nada dansa terelaborasi begitu indahnya dalam gemuruh powerful drumming, teriknya dering kibor serta paparan lirik-lirik jenial menjadi sebuah ledakan dansa yang energik. Uniknya, style musik yang diusung The Upstairs ini telah lebih dulu muncul sebelum ledakan global new wave revivalist yang dipopulerkan band-band seperti Franz Ferdinand, The Killers, The Bravery, Kaiser Chiefs, Bloc Party dan sebagainya. Sebuah kejadian yang cukup langka terjadi di tanah air.

Album penuh kedua The Upstairs ini berisi dua belas lagu terbaik mereka yang proses rekamannya dilakukan pada medio Desember 2005 hingga Februari 2006 di Studio Aluna, Jakarta milik komposer terkenal Erwin Gutawa. Sembilan lagu dalam Energy, di antaranya, “Terekam (Tak Pernah Mati)”, “Disko Darurat”, “Cosmic G-Spot”, “Energy”, “Dansa Akhir Pekan” merupakan karya terbaru The Upstairs selama bercengkerama dengan instrumen setahun belakangan. Sedangkan tiga lagu lainnya, “Matraman,” “Apakah Aku Berada Di Mars Atau Mereka Mengundang Orang Mars” dan “Gadis Gangster” merupakan materi yang direkam ulang dari sesi terdahulu.

Single pertama dari Energy yang telah airplay di berbagai stasiun radio adalah “Terekam (Tak Pernah Mati)”. Jimi Multhazam, vokalis The Upstairs, menjelaskan bahwa lagu ini bercerita tentang pria yang terpukau menyaksikan momen-momen luar biasa seorang gadis kuper serta bagaimana momen-momen tersebut terabadikan di kepalanya. “Terekam (Tak Pernah Mati)” sendiri merupakan lagu bertempo medium-beat yang dibuka dengan nada catchy dari kibor Elta, diimbuhi latar vokal Dian yang halus bersenandung serta sedikit pengaruh folk pada gitar Kubil. Track berdurasi lima menit minus satu detik ini juga menampilkan jeda string section dari kibor di pertengahan lagunya, sebuah pengalaman yang sama sekali baru bagi The Upstairs.

Album ini di beri judul Energy karena “dansa” menjadi solusi di setiap tema yang diangkat di hampir setiap lagunya. Tempo permainan di album ini sebenarnya lebih cepat di banding album terdahulu. Namun permainan instrument lain membuat album ini justru lebih mudah tertangkap telinga awam. Dan pastinya tidak menghilangkan karakter The Upstairs yang dance oriented.

The Upstairs merilis CD debut mereka yang bertitel Matraman secara independen tepat di malam Valentine 2004. Album yang menerima banyak pujian dari media massa ini selama dua tahun non-stop sukses mengantar The Upstairs tampil di berbagai pentas di Jakarta, Surabaya, Malang, Yogyakarta hingga Semarang. Puluhan ajang pensi bergengsi di Jakarta hingga ritus dance festival terbesar di Indonesia, Jakarta Movement pun tak luput mereka jelajahi. Hasilnya, fan base band ini pun semakin kuat dan berkembang setiap harinya.

Bermaksud melangkah ke level selanjutnya, The Upstairs menyebarkan demo empat lagu baru mereka ke berbagai label rekaman terkemuka Indonesia untuk membuka kemungkinan bekerjasama. Gayung bersambut, seorang sohib lama yang kemudian bekerja sebagai A&R Warner Music Indonesia, Agus Sasongko, menawarkan kontrak eksklusif satu album bagi The Upstairs. Tepat pada 19 September 2005 The Upstairs resmi teken kontrak satu album penuh dengan major label Warner Music Indonesia.

The Upstairs dibentuk pada bulan Oktober 2001 di Jakarta oleh Jimi Multhazam (vokalis) dan Kubil Idris (gitar) dengan pengaruh musikal dari band-band new wave seperti A Flock Of Seagulls, Devo, Depeche Mode, hingga Joy Division. Menyusul kemudian dalam perjalanan mereka bergabung, drummer Beni Adhiantoro, bassist Alfi Chaniago, backing vocal Dian Maryana dan belakangan keyboardist Elta Emanuella. Formasi ini adalah formasi tersolid hingga sekarang.

click to more informations

Diterbitkan di: on at 1:14 pm Tinggalkan sebuah Komentar